Tanggal 23 Maret 2015 kami, aku bersama anak cucu, mendarat di Kagoshima, sebuah kota
di Pulau Kyushu, pulau paling selatan di
Jepang, sebelum Okinawa. Aku mengantarkan mereka yang akan tinggal di Kagoshima untuk waktu yang lama. Udara musim semi sudah tidak
terlalu dingin, sangat sejuk sekali. Terharu melihat pertemuan cucuku dengan
ayahnya yang sudah 6 bulan berpisah, ayahnya berangkat ke kagoshima lebih dahulu.
Bahagianya mereka bisa berkumpul kembali.
“Jangan buru-buru ke halte bus dulu ya!", kataku saat melewati selasar lobi bandara dengan mata tidak
hentinya melihat sekeliling. Inilah airport Kagoshima Jepang, sepertinya tak
jauh beda dengan situasi airport lainnya bahkan ini terasa lebih kecil, namun
sudah lengkap dengan apa yang dibutuhkan oleh para pengunjung. Nampak restauran, toko makanan ringan dan toko-toko souvenir.
Saat kami keluar di pintu terminal domestik, mata ini tertuju pada sederetan orang yang duduk berjajar rapi dengan kaki telanjang terendam
di dalam air panas di semacam kolam dengan ornamen berbentuk
gunung. Belakangan diketahui bahwa itu miniatur Gunung Sakurajima, sebuah gunung
berapi aktif yang merupakan icon Kagoshima.
“Itu ashi onsen Maa. Mama bisa
merendam kaki dengan air mineral panas yang asli dialirkan dari sumber air panas dari
pengunungan terdekat”, kata mantuku menjelaskan, seolah mengerti apa yang
terlintas dibenakku. “Mama coba saja, untuk menghilangkan penat, sambil kita
menunggu kedatangan shuttle bus ke kota”, lanjutnya. Onsen adalah istilah bahasa Jepang untuk mandi dengan berendam air panas yang bersumber dari air mineral panas. Sehingga Ashi Onsen diartikan sebagai merendam ashi (kaki) ke dalam air mineral panas.
Aku langsung menyambut baik tawaran itu dan menuju ke sebuah bangku kosong disamping seorang wanita yang kira-kira 2-3 tahun lebih tua dariku. “Sumimasen,
koko de aiteimasuka?". Aah... Nihongo (bahasa Jepang)ku spontan keluar begitu saja,
menanyakan apakah bangku di sebelahnya kosong. Mendengar
aku menyapa dengan bahasa Jepang, maka wanita itu pun lalu dengan ramah mempersilahkan aku
duduk disebelahnya. Dan terbukalah obrolan ringan seputar asal negara dan tujuan kedatanganku di Kagoshima. Rupanya iapun pendatang dari Osaka, yang
menceriterakan bahwa setiap kali
berkunjung ke Kagoshima, ia akan menyempatkan menikmati ashi onsen ini untuk menghilangkan lelah dan pegal-pegal di kaki.
Kehangatan air dengan suhu kira-kira 38*C menjalar dari ujung
kakiku, membuka pori-pori kulit dan memperlancar aliran darah, hingga menghilangkan
rasa penat di kaki setelah total penerbangan selama 9 jam. Lima belas menit merendam kaki di air panas ini sungguh sebuah
sambutan kedatangan yang indah dan
menyenangkan di Kagoshima.
Aku bergegas melap kaki dengan handuk kecil yang dijual seharga 300 yen disamping area onsen kaki. Handuk kecil ini dijual dengan konsep "toko jujur", dengan cara melayani sendiri, mengambil barang dan membayarnya dengan meletakkan uang ditempat yang sudah disediakan. Semua mengandalkan kejujuran para pembelinya. Ini salah satu budaya yang kusuka, budaya jujur mengandalkan integritas moral.
Shuttle bus menuju kota sudah standby, kami memasuki bus untuk menuju Kagoshima Chuo Eki (Stasiun Chuo Kagoshima), kira-kira 40 menit perjalanan dengan harga tiket 1350
yen per orang dewasa. Aku sangat antusias
melihat panorama sepanjang perjalanan dan menikmati sensasi seolah pulang
kampung. Ini adalah perjalanan keduaku ke Jepang sejak 27 tahun yang lalu, setelah kembali ke tanah air dari sebuah perantauan selama 6 tahun, untuk menuntut ilmu.
Jepang memberikan kesan yang mendalam dalam kehidupan kami, terutama tentang budaya, etika dan karakter manusianya. Inilah yang membuat kami selalu kangen berkunjung kesana. Melihat ketertiban, kedisiplinan dan budaya kerja mereka, menjadi dorongan yang kuat untuk senantiasa mengoreksi diri agar menjadi lebih baik lagi.

No comments:
Post a Comment